Tinggal di Kota Birmingham, Inggris pada saat Pandemi

 Setelah setahun disini, banyak hal yang kita alami. Highlight-nya adalah kita kebagian kena lockdown, alias dikurung di rumah selama berminggu-minggu karena adanya Corona Virus Disease 2019 yang disingkat Covid-19. Di awal maret kondisi masih normal, orang-orang masih bebas kemana-mana meskipun saat itu angka penularan sekitar 200 orang per hari. Sampai ketika akhirnya sekolah diliburkan pada akhir maret, dan kondisi lockdown diberlakukan, angka penularan perhari sudah mencapai 1000 orang per hari. 

Ketika lockdown, kami masih diperbolehkan untuk keluar berbelanja bahan makanan pokok, ke apotek, ataupun berolahraga ringan seperti jogging atau bersepeda. Tapi karena berita soal virus ini masih baru, kita merasa takut dan cemas sehingga selama 2 bulan kita bener-bener ga keluar kemana-mana, cuma olahraga ringan dan berjemur di parkiran apartemen. Itu pun takuuuut kalau sampai ketemu atau papasan sama orang lain, heheee

Untuk bahan makanan, gw pesen stok sampai agak berlebihan. Bahan makanan segar dimuat-muatin sampai kulkas penuhhh, bahan makanan kering dan kalengan juga ditumpuk karena gw mikirnya bakalan susah kalau mau belanja keluar, jadi mumpung dapet slot belanja supermarket online dipenuh-penuhin sekalian trolinya. Orang British-nya sih lucu, mereka heboh nyetok tisu toilet sampai di supermarket ada peraturan maksimal pembelian tisu toilet hanya boleh 2 kemasan per orang. Setelah dipikir sekarang sih agak lebay ya, tapi pada saat itu common sense dan judgement kita semua tentu saja sudah tertutup oleh rasa takut akan tertular oleh virus corona, benda yang sebenernya kecillllll tapi efeknya bisa mematikan.

Supermarket sendiri menyediakan layanan delivery seperti biasa, tetapi karena demand nya naik jauh, maka untuk dapetin slot delivery gw sampe harus begadang dan rebutan di jam 12 malam. Banyak juga petani lokal yang buka lini bisnis baru, bikin akun online di instagram atau website untuk memudahkan kita pesen sayur segar langsung ke mereka. 

Orang-orang lain gimana? Dari berita yang gw baca (percayalah, waktu lockdown gw lebih sering mantau twitter dibanding instagram), pemerintah inggris sendiri melakukan beberapa langkah untuk memastikan dampak virus ini tidak separah yang diperkirakan. Di antaranya, menutup semua jenis tempat umum dan toko, kecuali rumah sakit, supermarket, dan apotek. Dan beberapa skema untuk membantu perekonomian seperti membantu tunjangan bagi para pekerja yang dirumahkan, dll. Yang menarik, bagi para homeless alias orang-orang yang sebelumnya harus tidur di jalanan, selama masa lockdown mereka disediakan hotel untuk tempat menginap lengkap dengan makanan dan snack agar mereka tetap di dalam dan tidak berkeliaran di luaran. 

Pemerintah juga menggalang aksi volunteer untuk membantu NHS (National Health Service) yang pada saat puncak pandemi sudah kewalahan dengan banyaknya pasien terjangkit virus ini. Waktu masa-masa puncak, angka infeksi harian bisa mencapai 6000 orang yang dinyatakan positif. Oh iya, di masa ini kalau kita sakit, kita dilarang ke klinik GP (General Practitioner) alias dokter umum. Kita cuma boleh konsultasi via telpon, lalu tebus obat di apotek terdekat. Kalau penyakitnya dirasa agak parah disarankan untuk datang langsung ke A&E (Accident & Emergency --> IGD) atau panggil ambulans sekalian untuk kasus yang life-threatening.

Nah, ketika lockdown dibuka, Celine sempat demam tinggi beberapa hari. Walaupun sebelumnya Celine ga kemana-mana, tapi suami gw masih keluar ke supermarket dll. Kita telepon dokter, dan dijanjikan akan dikirimkan alat untuk swab test sendiri di rumah, beserta link untuk belajar cara self-swab. Hemmm liat videonya aja udah serem, tapi lebih serem kalau ga dites ya. Hari ketiga demamnya turun, tapi alat tes belum dateng. Hari kelima tetep tuh alat ga nongol-nongol, dan berhubung dokternya bilang setelah 5 hari hasil tes ga akan akurat, yasudah kita tetep self isolated sampai 2 minggu. Dokternya juga berpesan kalau suhu tubuh masih tinggi, tapi kaki dan tangan dingin, kemudian hilang kesadaran, segera ke A&E atau telepon ambulans, karena dikhawatirkan meningitis. Sepertinya sih jumlah penyakit meningitis cukup tinggi disini, karena sebelumnya pun anak-anak dapet vaksin meningitis tambahan disini walaupun di Indonesia sudah diberikan. 

Segitu aja sih ingetnya, sisanya yaa sehari-hari belajar sama anak-anak di rumah, screen time yang nambahnya ga kira-kira, dan tak lupa ucapan terima kasihku kepada the sims 4, netflix, amazon prime, dan apple tv yang membantu menjaga mood gw agar tidak berubah menjadi Godzilla (kata Gamal) 😑




Comments

Popular Posts